Welcome To My Castle


Welcome To My Gratitude Journal

Yenni Triani and Her Life Story

About Me

My photo
Palembang, South Sumatera, Indonesia
I am a storyteller. A dreamer. A healer. A bibliophile who loves reading poetry, biography, memoirs and obituary. A passionate English Teacher. An LPDP Scholarship Awardee @MonashUniversityAustralia, A former voluntary teacher representing @IndonesiaMengajarNGO to serve Indigenous Children who live in Fakfak, West Papua, from 2014 to 2015.
Showing posts with label My Achievable Dreams. Show all posts
Showing posts with label My Achievable Dreams. Show all posts

Thursday, June 15, 2017

I Miss My Box of Chocolates


Now, it’s been exactly two years we haven’t seen each other. It feels like ages for me. 
I hope you would never forget me during my absence. Even if maybe somebody else has taken my place in your life by now. I hope I would still be the one you choose even if you’ve found someone better. I hope I would still be your favorite person, as you’re all still mine.

I hope you would still remember the way you used to love me. How your little hands loved to hold mine so tight and firm. How you loved to sniff my perfume, because it smells like bubble gum, your favourite fragrance. How you loved to hide in my arms and sleep on my lap, leaving drool stains on my dress. How you loved to kiss my left cheek with your runny nose, leaving snot stains on my face. Because I still remember each of those things you used to do with me. I liked it so much when you showed me that you’ve never been bored with me, not even once, though you’ve spent all your “everyday” with me.




When I first saw you back in 2014, I never planned to leave you. I found home in you. So, I decided to abandon the outside world, and ignored the future. I wanted to focus my whole life on you, because I’ve fallen in love with you that deep. I gave you my all. I forgot that my time with you was only 1 year. So, when my teaching contract was over in 2015, I left with nothing. I didn’t have any plan. I was so confused about “my life after you”, what I was supposed to do with it. The only thing I knew was that I had to come back to you someday. So then, I planned to make a “future-epic-comeback” for you. I promised you that when I see you again someday in the future, Inshaa Allah I will have become an expert in the field of English Teaching. I will have gained a super sufficient knowledge and skills to teach you in a best possible way. I will have obtained some high and fancy teaching credentials, and earned a position of a successful leading lady, so I could build you an English School there in Papua.




But darling, maybe you’ll have to wait a little bit longer for me to accomplish these dreams. I once thought that my journey back to you would be an easy trip home. Since my map and compass only pointed straight back at you, so that I thought I would never get lost along the way. I thought everything would run smoothly, exactly as I’ve planned. Little did I know that the world didn’t work that way. There’s a price to pay for any dream. Sometimes, there are many pains you have to endure just to survive and guard that dream. This is a cruel life, after all… there are many bad people out here with envy, hatred, greed, and manipulative minds trying to steal or break your dreams. That’s why I have to struggle this hard to protect all of my dreams. I believe one day Inshaa Allah I will accomplish those dreams. I’ll never give up on you, guys. I’ll never give up on my dreams. Please don’t you give up on me, either. I shall return to you someday, Inshaa Allah. I’ll make you proud… 

Please have patience with me, love... 
Because great things do take time…

Love you as always,

Mama Ibu

Saturday, November 14, 2015

My Vision on Passion: My Future Legacy For My Children in Fakfak, West Papua

It always breaks my heart to its very core, 
whenever I remember that I've left my children this far, this long. 

It's been months since the last time I saw them in Fakfak, West Papua. 
I've always been missing them, their warm hugs, their noisy laughter, and of course their innocent, genuine unconditional love.
I remember. 
I made a promise to them at the farewell. 
Saying that I would come back again for them, to that corner of Papua someday in the future.

Inshaa Allah...
God knows I mean it.

And, when I come back to them, years later in the future. Inshaa Allah, this time around, I hope I will be able to provide them with better knowledge, better teaching methods, and of course better intellectual and financial supports, as well. 
I aim to build a high quality "English School" for my Papuan children living in Fakfak, West Papua, someday in the future. Because I dream of seeing all of my Papuan kids posses the ability to speak English fluently. 
I want them to be well armed to win the battle of this globalized world. 

I want them to have the equal opportunity to reach the best things life can offer. 

I want them to go far in life with their dreams, travel the world, be seen, be heard, be successful, so in turn they will have whatever it takes to build their own villages and their homeland in the future.
For these reasons, I'm now upgrading my English Teaching skills in Jakarta. 
I learn from the experts and take chances to practice what I've learned, whenever possible. 

I teach any level of English programs assigned to me. 
Sometimes I teach children, other times I teach professionals in business classes. Even though, I prefer teaching children, obviously.
I want to gain any kind of English teaching experiences. 
I'm learning by doing. 
I'm learning by teaching. 
I'm growing. 

Yes, I'm preparing myself for becoming a better English Teacher for my children in Fakfak, West Papua in the future. 
I also aim to obtain a Master's Degree in English Teaching, TESOL. 
I want to be An Expert of English Teaching in the future for my Papuan children. 
I pray may Allah SWT give His Blessings to me so that I can reach this dream. 

And, as for now, 
I just need to keep striving. 
Keep working hard. 
Keep praying. 
Until one day, Inshaa Allah, my dream really does come true. I can't wait to finally be able to build my own "English School" for all of my children in Fakfak, my second home. I hope it will happen soon.
Aamiin ya Allah, Ya Robbal 'Alamiin...

Sampai ketemu lagi anak-anakku,

Inshaa Allah.
Semoga Tuhan meridhoi...

Sekarang, izinkan Mama Ibu untuk belajar, kerja, dan bersiap-siap dulu ya...
I will always love you.



#MyBiggestDreamInLife
#MyFutureCareerGoal
#CreatingMyFutureLegacy

Monday, March 30, 2015

Menjelajahi Indonesia dengan Perahu Kertas

Kali ini, aku mengajak anak-anakku membuat perahu kertas. Perahu kertas warna-warni lengkap dengan benderanya. Namun bukan untuk dilarung ke laut. Sebab, aku tahu perahu kertas mereka tidak akan survive lama, bahkan tidak dalam hitungan menit, jika dilarung ke laut. Terpaan ombak laut teluk, di musim barat ini akan menelan karya ringkih mereka itu, sebelum sempat berlabuh ke mana-mana. Bahkan, sebelum mereka puas menikmati perahu kertas itu mengapung, kuyakin air laut sudah keburu menelannya, dalam sekejap saja. Padahal, untuk memproduksi perahu kertas itu, mereka telah menghabiskan waktu satu jam pelajaran. Itulah mengapa kukatakan pada anak-anakku, bahwa tidak ada prosesi pelarungan perahu kertas, setidaknya untuk kali ini. 

Aku tidak ingin perahu kertas ini hanya menjadi mainan semata. Lebih dari itu, dengan kapasitas imajinasi anak-anakku yang berlimpah, aku 
ingin mereka melampaui tembok sekolah kami. Melampaui kampung kami, keluar dari perangkap hutan ini. Aku ingin mengajak mereka keluar, jauh dari kungkungan keterbatasan dan ketertinggalan ini. Pergi jauh, bertualang, mengarungi lautan luas, menjelajahi Indonesia, untuk kemudian menuju kota impian mereka. Dan, perahu kertas itulah yang akan berlayar bersama mereka menuju ke sana. Perahu kertas itu akan membawa mereka menjelajahi Indonesia, menemukan kota impian mereka, di atas peta. Untuk kesekian kalinya kuajari anak-anakku untuk bermimpi. Tapi kali ini, bermimpi sambil belajar peta Indonesia, sebuah pelajaran yang nampak membosankan bagi mereka sebelumnya. 

“Nak, ko liat ini e. Ini ibu pu kota kelahiran, ibu lahir di sini O. Dia pu nama kota Palembang. Ko su tau toh ibu lahir di kota ini. Ibu su pernah bilang toh. Nah, sekarang ibu tanya, Palembang itu, ibu kota dari provinsi apa?” Tanyaku sambil menunjuk ke satu titik di peta Indonesia. Anak-anakku mendengarkan sambil memperhatikan peta yang terhampar di lantai. Kami semua duduk melingkar, lesehan. 

“Sumatera Selatan, Ibu.” Jawab Mawada 

“Wah, pintar e. Mawada benar. Hebat Mawada su tau e.” Pujiku pada Mawada sambil mengacungkan kedua jempol. Mawada tersenyum malu. 

“Nah, sekarang, kamong semua dengar ibu e. Ibu mau cerita, tentang pengalaman ibu menjelajahi kota-kota impian ibu. Kota impian ibu yang pertama adalah Jakarta. Jadi, waktu ibu kecil, masih SD macam kamong semua ini toh, Ibu tinggal di kota Palembang. Baru, ibu suka nonton TV. Ibu liat di siaran TV tentang kota Jakarta. Ibu liat kota Jakarta itu besar e, banyak gedung tinggi, banyak sekolah bagus-bagus. Baru, ibu bilang ke ibu pu mama, kalau nanti ibu su besar, ibu mau kuliah di Jakarta O, biar jadi sarjana. Ibu pu mama bilang, bisa saja ibu pi kuliah di Jakarta, asal ibu jadi anak yang pintar. Kalau pintar, nanti dapat beasiswa, bisa kuliah gratis di Jakarta. Jadi, sejak itu, ibu belajar baik-baik walaupun ibu masih SD. Abis itu, ibu berdoa pada Tuhan biar Tuhan tolong ibu untuk bisa pi kuliah di Jakarta. Kamong tahu Jakarta itu letaknya di Pulau apa, Nak?” 

“Jawa...” Jawab anak-anakku serentak. 

“Betul sekali. Baru, mana dia pulau Jawa, pulau tempat Ibu mau kuliah itu?” tanyaku lagi. 

Anak-anakku berebut mencari Pulau Jawa di peta. Hingga tak seberapa lama mereka menemukannya. Lalu kulanjutkan ceritaku. 

“Nah, ternyata, setelah ibu besar, ibu benar-benar pi Jawa. Ibu pi kuliah di Jakarta O. Alhamdulillah, karena ibu rajin belajar, rajin sekolah, dan rajin berdoa, jadi ibu dapat beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Jadi, dengan beasiswa itu, ibu pu biaya kuliah dibayar oleh pemerintah. Ibu tidak usah bayar sendiri. Ibu pu Mama sama ibu pu Bapa senang sekali. Jadi, dong dua (mereka berdua) kasih ijin ibu buat pi Jawa. Baru, habis itu, dari Palembang, ibu langsung pindah ke Jawa.” Jelasku kepada anak-anakku sambil menggerakkan perahu kertasku di atas peta. Kupindahkan dia dari titik kota Palembang di Pulau Sumatera, menuju titik Jakarta di Pulau Jawa. 

“Jauh juga e, Ibu. Ibu su pi di dua pulau besar O,” Fasril berkomentar. 

“Iyo, itu sudah toh. Tapi itu belum jauh, Nak. Masih ada yang lebih jauh lai. Baru, setelah ibu jadi Sarjana di Jawa. Ibu bercita-cita mau jadi guru di Papua. Jadi, kota impian ibu yang kedua adalah kota di Papua. Dan, Alhamdulillah, Tuhan kasih ijin ibu untuk ke Papua. Jadi, dari Jawa, ibu pindah ke Fakfak, di Papua ini toh. Sampe akhirnya ibu ketemu kamong semua ini toh. Ibu pu anak-anak sayang ini e...” 

Kamong liat toh, ibu su pi jauh saja, dari Sumatera ke Jawa, dari Jawa pi sampeee di Papua...,” Jelasku yang disambut dengan senyum mereka. Anak-anakku memandang takjub ketika kupindahkan perahu kertasku dari titik Jakarta ke salah satu titik di Papua, kota Fakfak, sebuah titik yang sangat jauh dari Jakarta. 

“Nah, ko su liat toh, ibu su bisa pi di ibu pu kota-kota impian. Kota-kota impian ibu itu jauh dari ibu pu rumah di Palembang toh. Tapi ibu su bisa sampai. Bahkan ibu yang berasal dari Palembang ini, bisa pi di Papua, ketemu kamong semua. Jadi, kalo ibu bisa pi di Papua, berarti kamong juga bisa sampai di Sumatera, di ibu pu rumah O. Dan yang paling penting, kalo ibu bisa sekolah di Jawa, berarti kamong semua juga bisa sekolah di Jawa. Mau sekolah di Jawa, Nak?” 

“Mau...” jawab mereka serentak. 

“Makanya, kamong harus belajar baik-baik e, rajin sekolah, dan rajin berdoa sama Tuhan. Tuhan pasti dengar doa-doa ibu pu anak-anak baik ini O.” 

“Nah, sekarang, angkat ko pu perahu kertas masing-masing. Kemudian, bawa dia pi berlayar ke ko pu kota-kota impian.” 

“Ko bayangkan, ko ada di dalam perahu kertas itu toh. Baru kemudian, ko dayung dia sampe keliling Indonesia. Cari ko pu kota impian sendiri, Nak. Ko pu kota impian itu tidak harus di Pulau Jawa atau Sumatera, Nak. Ko bisa pi di Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, bahkan di Papua juga boleh. Papua itu luas Nak, ko liat toh dia pu gambar di peta saja besar, apa lagi aslinya."

“Ayo sekarang cari ko pu kota-kota impian!” perintahku kemudian. 

Lalu, anak-anakku berebut menjalankan perahu kertas mereka yang sudah diberi nama masing-masing itu. Mereka bersemangat melayarkan perahu kertas mereka di atas sebidang peta usang berdebu itu. Anak-anakku begitu antusias menjelajahi seantero peta. Sepertinya, mereka benar-benar membayangkan bahwa mereka sedang berada di dalam perahu kertas mereka masing-masing. Mereka menghayati skenario bahwa mereka sedang benar-benar mendayung perahu kertas itu, menjelajahi Indonesia untuk menemukan kota impian mereka. Persis, seperti yang telah aku instruksikan sebelumnya. 

Maka tak mengherankan, apabila kemudian dapat kutangkap raut wajah bahagia dan bangga mereka, manakala berhasil melabuhkan perahu kertas mereka di satu titik yang kami sebut sebagai “kota impian” itu. Sejenak aku merinding melihat semangat mereka menuju ke tempat impian mereka masing-masing. Hari itu, semua anakku telah menemukan kota impian mereka. Bahkan banyak dari mereka yang memiliki lebih dari satu kota impian. 

“Ibu, katong mau pi di Makassar dan Jakarta”, kata Fasril. 

“Katong mau pi di Surabaya dan Palembang”, Seru Sarkia. 

“Katong mau pi di Banda Aceh dan Medan”, Teriak Asmin. 

Itulah jawaban-jawaban penuh percaya diri dari anak-anakku ketika kutanya; “Nak, ko pi mana?” (Nak, kamu mau pergi ke mana?) 

Memang, hari ini kota-kota itu baru bisa mereka jangkau di atas peta saja. Tapi kelak, kuyakin Tuhan akan mengantar anak-anakku ke kota-kota impian mereka masing-masing. Seperti Tuhan yang telah mengantarku ke sini, kepada mereka. Aku percaya... 

Dan, tak terasa anak-anakku sedikit demi sedikit sudah hapal wajah peta Indonesia sekarang. Tanpa mereka sadari, mereka sudah belajar menghapal peta Indonesia, pelajaran yang selama ini terasa membosankan bagi mereka. Kali ini, perahu-perahu kertas warna-warni itu, benar-benar telah membawa anak-anakku menjelajahi Indonesia dengan penuh semangat. Aku tak pernah menyangka, bahkan sebuah perahu kertas pun bisa sangat berjasa. 



-Yenni Triani- Pengajar Muda VIII Kab. Fakfak, Papua Barat (When Paper Boats Taking My Kids To Their Dream Cities)


Thursday, July 31, 2014

Moment To Remember: Being Introduced To Mr. Vice President of Indonesia



It was in his palace, in lovely June, I was invited to meet this humble Indonesian prominent leader, Mr. Budiono, The Vice President of Indonesia.

I was not alone when presented in front of him, after a long queue, as I accidentally reunited with my former thesis advisor; Mr. Anies Baswedan. Another humble national leader who was -out of the blue- coming to personally introduce me to Mr. Budiono. I didn't expect to see him that afternoon. I didn't even know that Pak Anies was also scheduled to be there at the palace, at precisely the same time as me. What a coincidence! He has always been a celebrity, surrounded by his fans everywhere he went, so I didn't expect he would notice me.

Standing next to me, Pak Anies told Pak Budiono: "Pak Budi, this is Yenni. She is one of my best students in Paramadina and she will serve as a voluntary teacher in Papua. She speaks excellent English, even though she's never been to any English speaking country yet".
I was so surprised that he had time for making me feel so seen and special in front of Pak Budi. I felt deeply honoured. I was even blushing knowing that he could still recognize me in a room full of competitive young achievers. This very moment definitely became my favourite moment with Mr. Anies Baswedan by far. To me, Pak Anies has always been a mentor, a teacher, and someone I admire and respect greatly. Even my father is also one of his biggest fans. So, obviously, he's very special to our family.
Apart from that, Pak Budi was very warm and kind, as well, he treated me like his daughter. So, I felt so lucky. Alhamdulillah. 
I still couldn't believe that Pak Anies would give such a kind and sweet introduction about me in front of a top leader like Mr. Budiono. It was like a dream. But, dreams do come true, anyway. What a sweet surprise. Alhamdulillah.

Well, I do hope that in the near future I will have an opportunity to study and live in one of the English speaking countries, just like both Pak Anies and Pak Budi who have a PhD from The US. And recently, I just found out that Pak Budi even had a Master’s degree from Monash University, Australia, which is another coincidence, because I've always wanted to continue my master's degree there, as well. And I think I'm going there soon, Inshaa Allah. Australia will be a perfect destination for me to study a Master of TESOL, Inshaa Allah. Well, actually Australia and England have been my dream destinations since childhood. My plan is to go to Australia first, and later; England,  Inshaa Allah. 

It's so ironic knowing that I've been learning English my whole life since childhood. And I've been teaching it since I was 18. But, haven't got any chance to visit any native English speaking country yet. And I'm not even joking. 😂🤭📖✒️🌹So, Inshaa Allah, I'm coming to Australia soon, it will be my first time abroad. 

Tuesday, July 22, 2014

Memulai Hidup Baru di Tanah Papua Sebagai Seorang Pengajar Muda


Tanggal 15 Juni 2014, untuk pertama kalinya kakiku menginjak tanah Papua. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan pergi sejauh ini, berada di sebuah tempat yang terletak di ujung timur Indonesia. Tapi kubulatkan tekadku untuk tetap menjangkau tempat ini, apapun resikonya, karena aku tahu bahwa ada banyak anak-anak Papua, para mutiara hitam yang sedang menungguku di kampung mereka. Mereka sedang menunggu seorang Ibu Guru, untuk belajar dan berbagi bersama mereka, dan itu adalah aku. Maka kubuang segala ketakutanku dan kekhawatiranku sebelum berangkat meninggalkan Jakarta. Aku yakin ini akan jadi sebuah perjalanan mulia yang direstui Tuhan dan orangtuaku. Ya Allah, aku datang ke Papua untuk mengajar dan berbagi kasih sayang dengan anak-anak Papua, sesuatu yang akan membuat hidupku bermanfaat dan berharga. Maka kuatkanlah aku, Tuhan...

Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 6 jam dari Jakarta, dan sempat singgah di Ambon, akhirnya aku tiba di bandara Torea. Torea adalah sebuah bandara kecil di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Memasuki kawasan bandara ini, aku takjub dengan pemandangan alamnya; laut biru, sebiru langitnya, membentang luas di hadapan bandara. Pesona keindahan ini membuatku mampu melupakan semua rasa pusing dan mual akibat rasa ketakutanku saat masih di dalam pesawat. Maklum aku sebenarnya takut ketinggian, dan ini kali pertama aku naik pesawat dengan rute jauh, lebih dari 5 jam. Sepanjang perjalanan udara; Alqur'an dan semua do'a membantuku melalui ketegangan di udara. Apalagi saat itu, aku terbang di tengah kondisi cuaca buruk, turbulensi menggentarkan nyaliku. Hanya do'a dan ayat-ayat Al Qur'an -yang tak henti-hentinya kulisankan- membuatku tetap berfikir positif bahwa perjalanan ini akan baik-baik saja. Dan Alhamdulillah, aku tiba dengan selamat di sini. 
Allahu Akbar... 

It was quite a journey, testing my adrenaline... 

But not long after that, all of my pains caused by the flight turbulence and anxiety were suddenly gone away somehow.
Alhamdulillah.

Setelah tiba di sini, aku istirahat beberapa hari di kota kabupaten Fakfak. Sebelum akhirnya kulanjutkan perjalanan darat, menembus hutan lebat dengan menumpang sebuah angkot, menuju sebuat tempat yang telah lama aku idam-idamkan: kampung penempatan.

Kampung penempatanku terletak di pinggir teluk, dengan tofografi alam berbukit-bukit, sebuah kombinasi yang hebat; laut dan bukit hijau. Kampung ini bernama Kampung Offie. Kutempuh 2 jam perjalanan darat untuk mencapai kampung ini. Saat tiba di sini pertama kali, aku telah disambut dengan senyum anak-anakku, anak-anak Papua dengan rambut keriting dan warna kulit eksotis mereka; para malaikat kecil yang selama ini hanya ada di bayanganku saja. Mereka sangat antusias bertemu denganku. Mereka memandangku tak henti-hentinya, yang membuatku merasa cantik, hehehe. 😂✌

Aku merasa menjadi pusat gravitasi di sini, kemanapun aku pergi, pasti selalu ada anak-anak di sekitarku, mereka mengikuti kemana pun aku melangkah. Segera, anak-anak ini mulai belajar menghafal namaku: Ibu Yenni. Tuhan aku bahagia sekali dipanggil Ibu, panggilan itu membuatku merasa seperti sosok penuh kasih yang sangat dicintai mereka. Setiap bertemu, anak-anakku selalu bersedia menerima jabatan tanganku tanpa malu-malu. Bahkan mereka dengan sangat antusias menciumi punggung-tanganku. Tuhan, ada rasa keharuan luar biasa setiap kali kugenggam tangan-tangan kecil mereka. Aku semakin bersyukur Tuhan mengirimku ke sini. Untuk pertama kalinya aku merasa begitu penting dan begitu berharga bagi orang lain. Aku begitu dicintai di sini. 

Di kampung inilah aku mulai melakukan tugasku sebagai seorang Pengajar Muda: guru sukarela. Namun sebagai seorang guru, aku tidak hanya mengajar di kelas. Tetapi aku juga merawat dan mendidik anak-anakku di luar kelas. Karena bagiku "Teaching is also parenting". Aku seorang guru, sekaligus ibu bagi anak-anakku. Dan hal ini membuat hidupku terasa sangat berbeda.

I feel so much alive here... 

Merawat mereka seolah mengalirkan energi kebahagiaan luar biasa kepadaku. Di sini, aku menjadi pribadi yang sangat bahagia, tak pernah satu hari pun kulewatkan tanpa tersenyum dan merasa bersyukur. 

Sepulang sekolah, kuajarkan anak-anakku cara cuci tangan dan mandi pakai sabun. Anak-anakku adalah anak-anak dengan potensi kinestetis yang luar biasa. Dalam sehari, mereka mampu melakukan berbagai petualangan. Mereka berburu cacing untuk memancing di laut, mencari kepiting di dalam lumpur, berlari naik turun bukit, bermain rumah-rumahan di hutan, berguling-guling di rerumputan. 

Mereka selalu penuh keringat dan berlumuran debu dan lumpur. Sayangnya, dengan kondisi itu, mereka tidak terbiasa mandi dan cuci tangan. Sehingga seringkali anak-anakku ini terjangkit penyakit kulit hingga ingusan. Aku tak mau membiarkan mereka terus menerus jauh dari kebiasaan hidup sehat. Untuk itu aku mulai memperkenalkan anak-anakku dengan kebiasaan cuci tangan dan mandi, terutama cuci tangan dan mandi pakai sabun.

Dari seringnya aktivitas cuci tangan dan mandi pakai sabun yang kami lakukan. Akhirnya anak-anakku mengatakan padaku bahwa sebenarnya mereka sangat suka mandi, apalagi mandi dengan menggunakan sabun. "Ibu, katong mo mandi pakai sabun, tapi sabun tarada". Sabun itu membuat mereka merasa wangi dan bersih. Tetapi apa daya, sabun di kampung sangat mahal harganya karena jumlahnya yang langka. Sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan sabun, sulit bagi mereka untuk mandi pakai sabun. 

Menyaksikan hal ini, aku memutuskan untuk menyisihkan uangku untuk membeli sabun di kota. Sabun di kota jauh lebih murah, walaupun tidak semurah di Jawa atau Sumatera. Tapi tak apalah, kubeli saja semampuku agar aku dapat memandikan anak-anakku dengan sabun serutin mungkin. 

Ya Allah, Ya Tuhanku, kali ini do'aku sederhana: bantulah aku untuk mendapatkan lebih banyak sabun untuk mereka... 

Total of Views

Thank You For Visiting Me