Welcome To My Castle


Welcome To My Gratitude Journal

Yenni Triani and Her Life Story

About Me

My photo
Palembang, South Sumatera, Indonesia
I am a storyteller. A dreamer. A healer. A bibliophile who loves reading poetry, biography, memoirs and obituary. A passionate English Teacher. An LPDP Scholarship Awardee @MonashUniversityAustralia, A former voluntary teacher representing @IndonesiaMengajarNGO to serve Indigenous Children who live in Fakfak, West Papua, from 2014 to 2015.
Showing posts with label Menjadi Pengajar Muda. Show all posts
Showing posts with label Menjadi Pengajar Muda. Show all posts

Saturday, November 14, 2015

My Vision on Passion: My Future Legacy For My Children in Fakfak, West Papua

It always breaks my heart to its very core, 
whenever I remember that I've left my children this far, this long. 

It's been months since the last time I saw them in Fakfak, West Papua. 
I've always been missing them, their warm hugs, their noisy laughter, and of course their innocent, genuine unconditional love.
I remember. 
I made a promise to them at the farewell. 
Saying that I would come back again for them, to that corner of Papua someday in the future.

Inshaa Allah...
God knows I mean it.

And, when I come back to them, years later in the future. Inshaa Allah, this time around, I hope I will be able to provide them with better knowledge, better teaching methods, and of course better intellectual and financial supports, as well. 
I aim to build a high quality "English School" for my Papuan children living in Fakfak, West Papua, someday in the future. Because I dream of seeing all of my Papuan kids posses the ability to speak English fluently. 
I want them to be well armed to win the battle of this globalized world. 

I want them to have the equal opportunity to reach the best things life can offer. 

I want them to go far in life with their dreams, travel the world, be seen, be heard, be successful, so in turn they will have whatever it takes to build their own villages and their homeland in the future.
For these reasons, I'm now upgrading my English Teaching skills in Jakarta. 
I learn from the experts and take chances to practice what I've learned, whenever possible. 

I teach any level of English programs assigned to me. 
Sometimes I teach children, other times I teach professionals in business classes. Even though, I prefer teaching children, obviously.
I want to gain any kind of English teaching experiences. 
I'm learning by doing. 
I'm learning by teaching. 
I'm growing. 

Yes, I'm preparing myself for becoming a better English Teacher for my children in Fakfak, West Papua in the future. 
I also aim to obtain a Master's Degree in English Teaching, TESOL. 
I want to be An Expert of English Teaching in the future for my Papuan children. 
I pray may Allah SWT give His Blessings to me so that I can reach this dream. 

And, as for now, 
I just need to keep striving. 
Keep working hard. 
Keep praying. 
Until one day, Inshaa Allah, my dream really does come true. I can't wait to finally be able to build my own "English School" for all of my children in Fakfak, my second home. I hope it will happen soon.
Aamiin ya Allah, Ya Robbal 'Alamiin...

Sampai ketemu lagi anak-anakku,

Inshaa Allah.
Semoga Tuhan meridhoi...

Sekarang, izinkan Mama Ibu untuk belajar, kerja, dan bersiap-siap dulu ya...
I will always love you.



#MyBiggestDreamInLife
#MyFutureCareerGoal
#CreatingMyFutureLegacy

Monday, May 25, 2015

The Dilemma; It's Almost June, It's Almost Goodbye


I’m gonna miss the sound of your laughter and all of your stories, and the way you make me fall in love with you, everyday... 
*** 

“Ibu, Sitria bilang katong pu kepala bokar O,” (Ibu Sitria bilang kalau kepala saya besar). Keluh Aldy mengadu kepada ku. Sitria adalah kakak perempuan Aldy yang sudah SMP. Kalau lagi kesal dengan ulah Aldy, Sitria akan menumpahkan kemarahannya dengan menjuluki Aldy sebagai “Si Kepala Besar”. 

Mendengar pengaduan ini, tawaku hampir saja meledak. Tapi kutahan sekuat tenaga, karena kulihat Aldy memang benar-benar menunjukkan wajah sedih akibat julukan itu. 

Kudekati dia, lalu aku duduk agar bisa menyamai tinggi tubuhnya. Sambil memegang kedua tangannya yang gempal, ku tatap matanya, lalu kukatakan; “Aldy, tara papa sudah Sitria bilang begitu. Tara usah marah e... Ibu pu kepala juga bokar O. Kepala bokar itu malah bagus O. Otak bokar jadi kepala bokar. Orang yang pu otak bokar itu pintar, makanya dong pu kepala bokar, macam Aldy ini. Nah, Aldy pu otak bokar, makanya Aldy pintar toh...makanya Aldy cepat belajar. Jadi, ko tara usah sedih e kalau Sitria bilang begitu. Ko ingat saja kalau kau itu anak pintar e...” (Aldy, tidak apa-apa Sitria bilang begitu. Tidak usah marah ya... Kepala Ibu juga besar kok. Kepala besar itu malah bagus. Otak besar jadi kepala besar. Orang yang mempunyai otak besar itu pintar, makanya kepalanya besar pula, seperti Aldy ini. Nah, otak Aldy besar, makanya Aldy pintar toh...makanya Aldy cepat belajar. Jadi, kamu tidak usah sedih ya kalau Sitria bilang begitu. Kamu ingat saja kalau kamu itu anak pintar ya.) Jelasku panjang lebar. Mendengar itu, Aldy tersenyum sambil menunjukkan gigi putihnya yang rapi. I guess he got the point. 

Tak lama, si Anak pintar satu ini, kembali memulai lagi celotehnya. 

“Ibu, ko tara usah pulang di Jawa sudah e. Ibu tinggal di sini saja. Nanti, katong jadi tentara, katong dapat uang, katong bikin Ibu pu rumah di sini. Katong bikin Ibu pu rumah tingkat, dengan kamar tingkat. Katong bikin Ibu pu rumah besar O. Katong bikin Ibu pu rumah di air garam sebelah sana, baku dekat dengan masjid...” (Ibu, kamu jangan pulang ke Jawa ya. Ibu tinggal di sini saja. Nanti, saya jadi tentara, lalu saya punya uang. Kalau sudah punya uang, saya akan bangun sebuah rumah untuk Ibu. Rumah bertingkat dengan kamar yang bertingkat juga. Rumahnya besar. Saya bangun rumah untuk Ibu di laut sebelah sana, dekat dengan masjid). Jelas Aldy sambil menunjuk ke arah masjid yang terlihat kecil jauh di sana. 

Mataku terpaku melihat ke arah yang ditunjuk Aldy dengan jari telunjuk kecilnya itu. Masjid kecil bercat putih di laut sebelah sana mengingatkanku akan hari-hari ajaib yang telah kuhabiskan bersama anak-anakku selama hampir satu tahun ini. Pikiranku menerawang... 
Dan kali ini tak ada kata yang bisa kuucapkan untuknya. 

I’m speechless. 
How could he say that? Where did he get such idea? 
How could this little baby boy come up with something so big, as big as that? 
He wants to build a house to shelter me, to make me stay, to be there with him. 

Words failed. 

Belakangan ini Aldy semakin manis kepadaku. He treats me so nicely. Dengan kaki pendek balitanya, dia sering berjalan kaki, sendiri mendaki bukit untuk menjemputku di sekolah. Sepulang dari PAUD, setelah meminta izin kepada mamanya, anak laki-laki berumur 4 tahun ini menempuh jarak sejauh ratusan meter hanya untuk menemuiku di sekolah. Dia berjalan dari pangkal kampung (rumahnya) hingga ujung kampung. Aku sering kaget mendapatinya di sekolahku tanpa mamanya. Untungnya di sepanjang jalan menuju sekolah ada banyak rumah dan semua warga kampung telah mengenal bocah kecil yang hobi bicara ini. Makanya dia aman saja menempuh perjalanan menuju sekolahku itu. Kondisi ini pula yang menyebabkan mamanya tidak pernah melarang Aldy untuk menjemputku pulang sekolah. 

Di akhir-akhir masa tugasku di sini, Aldy semakin intens mengikutiku kemana pun aku pergi. Dia menjadi ekor permanenku. Mamanya bilang dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamaku sebelum aku pulang ke Jawa. Bahkan, di suatu pagi, dia pernah berkata kepadaku; “Ibu, abis Ibu su pulang di Jawa. Kalau katong su besar, katong pi di Jawa O, susul Ibu. Katong cari Ibu di Jawa sana.” (Ibu, kalau Ibu sudah pulang ke Jawa dan saya sudah besar, saya akan menyusul Ibu, mencari Ibu di Jawa sana). Sebuah pernyataan yang membuat hatiku ngilu mendengarnya.

All these final days, “this little baby boy” consistently tries to convince me that I’m still so much “wanted” and “needed” here. 



I feel so overwhelmed... 
I’m so confused. 
What should I say, what should I do?

Monday, March 30, 2015

Menjelajahi Indonesia dengan Perahu Kertas

Kali ini, aku mengajak anak-anakku membuat perahu kertas. Perahu kertas warna-warni lengkap dengan benderanya. Namun bukan untuk dilarung ke laut. Sebab, aku tahu perahu kertas mereka tidak akan survive lama, bahkan tidak dalam hitungan menit, jika dilarung ke laut. Terpaan ombak laut teluk, di musim barat ini akan menelan karya ringkih mereka itu, sebelum sempat berlabuh ke mana-mana. Bahkan, sebelum mereka puas menikmati perahu kertas itu mengapung, kuyakin air laut sudah keburu menelannya, dalam sekejap saja. Padahal, untuk memproduksi perahu kertas itu, mereka telah menghabiskan waktu satu jam pelajaran. Itulah mengapa kukatakan pada anak-anakku, bahwa tidak ada prosesi pelarungan perahu kertas, setidaknya untuk kali ini. 

Aku tidak ingin perahu kertas ini hanya menjadi mainan semata. Lebih dari itu, dengan kapasitas imajinasi anak-anakku yang berlimpah, aku 
ingin mereka melampaui tembok sekolah kami. Melampaui kampung kami, keluar dari perangkap hutan ini. Aku ingin mengajak mereka keluar, jauh dari kungkungan keterbatasan dan ketertinggalan ini. Pergi jauh, bertualang, mengarungi lautan luas, menjelajahi Indonesia, untuk kemudian menuju kota impian mereka. Dan, perahu kertas itulah yang akan berlayar bersama mereka menuju ke sana. Perahu kertas itu akan membawa mereka menjelajahi Indonesia, menemukan kota impian mereka, di atas peta. Untuk kesekian kalinya kuajari anak-anakku untuk bermimpi. Tapi kali ini, bermimpi sambil belajar peta Indonesia, sebuah pelajaran yang nampak membosankan bagi mereka sebelumnya. 

“Nak, ko liat ini e. Ini ibu pu kota kelahiran, ibu lahir di sini O. Dia pu nama kota Palembang. Ko su tau toh ibu lahir di kota ini. Ibu su pernah bilang toh. Nah, sekarang ibu tanya, Palembang itu, ibu kota dari provinsi apa?” Tanyaku sambil menunjuk ke satu titik di peta Indonesia. Anak-anakku mendengarkan sambil memperhatikan peta yang terhampar di lantai. Kami semua duduk melingkar, lesehan. 

“Sumatera Selatan, Ibu.” Jawab Mawada 

“Wah, pintar e. Mawada benar. Hebat Mawada su tau e.” Pujiku pada Mawada sambil mengacungkan kedua jempol. Mawada tersenyum malu. 

“Nah, sekarang, kamong semua dengar ibu e. Ibu mau cerita, tentang pengalaman ibu menjelajahi kota-kota impian ibu. Kota impian ibu yang pertama adalah Jakarta. Jadi, waktu ibu kecil, masih SD macam kamong semua ini toh, Ibu tinggal di kota Palembang. Baru, ibu suka nonton TV. Ibu liat di siaran TV tentang kota Jakarta. Ibu liat kota Jakarta itu besar e, banyak gedung tinggi, banyak sekolah bagus-bagus. Baru, ibu bilang ke ibu pu mama, kalau nanti ibu su besar, ibu mau kuliah di Jakarta O, biar jadi sarjana. Ibu pu mama bilang, bisa saja ibu pi kuliah di Jakarta, asal ibu jadi anak yang pintar. Kalau pintar, nanti dapat beasiswa, bisa kuliah gratis di Jakarta. Jadi, sejak itu, ibu belajar baik-baik walaupun ibu masih SD. Abis itu, ibu berdoa pada Tuhan biar Tuhan tolong ibu untuk bisa pi kuliah di Jakarta. Kamong tahu Jakarta itu letaknya di Pulau apa, Nak?” 

“Jawa...” Jawab anak-anakku serentak. 

“Betul sekali. Baru, mana dia pulau Jawa, pulau tempat Ibu mau kuliah itu?” tanyaku lagi. 

Anak-anakku berebut mencari Pulau Jawa di peta. Hingga tak seberapa lama mereka menemukannya. Lalu kulanjutkan ceritaku. 

“Nah, ternyata, setelah ibu besar, ibu benar-benar pi Jawa. Ibu pi kuliah di Jakarta O. Alhamdulillah, karena ibu rajin belajar, rajin sekolah, dan rajin berdoa, jadi ibu dapat beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Jadi, dengan beasiswa itu, ibu pu biaya kuliah dibayar oleh pemerintah. Ibu tidak usah bayar sendiri. Ibu pu Mama sama ibu pu Bapa senang sekali. Jadi, dong dua (mereka berdua) kasih ijin ibu buat pi Jawa. Baru, habis itu, dari Palembang, ibu langsung pindah ke Jawa.” Jelasku kepada anak-anakku sambil menggerakkan perahu kertasku di atas peta. Kupindahkan dia dari titik kota Palembang di Pulau Sumatera, menuju titik Jakarta di Pulau Jawa. 

“Jauh juga e, Ibu. Ibu su pi di dua pulau besar O,” Fasril berkomentar. 

“Iyo, itu sudah toh. Tapi itu belum jauh, Nak. Masih ada yang lebih jauh lai. Baru, setelah ibu jadi Sarjana di Jawa. Ibu bercita-cita mau jadi guru di Papua. Jadi, kota impian ibu yang kedua adalah kota di Papua. Dan, Alhamdulillah, Tuhan kasih ijin ibu untuk ke Papua. Jadi, dari Jawa, ibu pindah ke Fakfak, di Papua ini toh. Sampe akhirnya ibu ketemu kamong semua ini toh. Ibu pu anak-anak sayang ini e...” 

Kamong liat toh, ibu su pi jauh saja, dari Sumatera ke Jawa, dari Jawa pi sampeee di Papua...,” Jelasku yang disambut dengan senyum mereka. Anak-anakku memandang takjub ketika kupindahkan perahu kertasku dari titik Jakarta ke salah satu titik di Papua, kota Fakfak, sebuah titik yang sangat jauh dari Jakarta. 

“Nah, ko su liat toh, ibu su bisa pi di ibu pu kota-kota impian. Kota-kota impian ibu itu jauh dari ibu pu rumah di Palembang toh. Tapi ibu su bisa sampai. Bahkan ibu yang berasal dari Palembang ini, bisa pi di Papua, ketemu kamong semua. Jadi, kalo ibu bisa pi di Papua, berarti kamong juga bisa sampai di Sumatera, di ibu pu rumah O. Dan yang paling penting, kalo ibu bisa sekolah di Jawa, berarti kamong semua juga bisa sekolah di Jawa. Mau sekolah di Jawa, Nak?” 

“Mau...” jawab mereka serentak. 

“Makanya, kamong harus belajar baik-baik e, rajin sekolah, dan rajin berdoa sama Tuhan. Tuhan pasti dengar doa-doa ibu pu anak-anak baik ini O.” 

“Nah, sekarang, angkat ko pu perahu kertas masing-masing. Kemudian, bawa dia pi berlayar ke ko pu kota-kota impian.” 

“Ko bayangkan, ko ada di dalam perahu kertas itu toh. Baru kemudian, ko dayung dia sampe keliling Indonesia. Cari ko pu kota impian sendiri, Nak. Ko pu kota impian itu tidak harus di Pulau Jawa atau Sumatera, Nak. Ko bisa pi di Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, bahkan di Papua juga boleh. Papua itu luas Nak, ko liat toh dia pu gambar di peta saja besar, apa lagi aslinya."

“Ayo sekarang cari ko pu kota-kota impian!” perintahku kemudian. 

Lalu, anak-anakku berebut menjalankan perahu kertas mereka yang sudah diberi nama masing-masing itu. Mereka bersemangat melayarkan perahu kertas mereka di atas sebidang peta usang berdebu itu. Anak-anakku begitu antusias menjelajahi seantero peta. Sepertinya, mereka benar-benar membayangkan bahwa mereka sedang berada di dalam perahu kertas mereka masing-masing. Mereka menghayati skenario bahwa mereka sedang benar-benar mendayung perahu kertas itu, menjelajahi Indonesia untuk menemukan kota impian mereka. Persis, seperti yang telah aku instruksikan sebelumnya. 

Maka tak mengherankan, apabila kemudian dapat kutangkap raut wajah bahagia dan bangga mereka, manakala berhasil melabuhkan perahu kertas mereka di satu titik yang kami sebut sebagai “kota impian” itu. Sejenak aku merinding melihat semangat mereka menuju ke tempat impian mereka masing-masing. Hari itu, semua anakku telah menemukan kota impian mereka. Bahkan banyak dari mereka yang memiliki lebih dari satu kota impian. 

“Ibu, katong mau pi di Makassar dan Jakarta”, kata Fasril. 

“Katong mau pi di Surabaya dan Palembang”, Seru Sarkia. 

“Katong mau pi di Banda Aceh dan Medan”, Teriak Asmin. 

Itulah jawaban-jawaban penuh percaya diri dari anak-anakku ketika kutanya; “Nak, ko pi mana?” (Nak, kamu mau pergi ke mana?) 

Memang, hari ini kota-kota itu baru bisa mereka jangkau di atas peta saja. Tapi kelak, kuyakin Tuhan akan mengantar anak-anakku ke kota-kota impian mereka masing-masing. Seperti Tuhan yang telah mengantarku ke sini, kepada mereka. Aku percaya... 

Dan, tak terasa anak-anakku sedikit demi sedikit sudah hapal wajah peta Indonesia sekarang. Tanpa mereka sadari, mereka sudah belajar menghapal peta Indonesia, pelajaran yang selama ini terasa membosankan bagi mereka. Kali ini, perahu-perahu kertas warna-warni itu, benar-benar telah membawa anak-anakku menjelajahi Indonesia dengan penuh semangat. Aku tak pernah menyangka, bahkan sebuah perahu kertas pun bisa sangat berjasa. 



-Yenni Triani- Pengajar Muda VIII Kab. Fakfak, Papua Barat (When Paper Boats Taking My Kids To Their Dream Cities)


Monday, January 26, 2015

Mimpi Seorang Anak Pemecah Batu

Sore itu, sepulang sekolah, tanpa berganti baju terlebih dahulu, kuputuskan untuk menghabiskan waktu bersama Aldy. Aldy, anak PAUD-ku yang baru berusia 4 tahun, adalah teman mendayungku di beberapa sore terakhir ini. Kujemput dia dan dia segera lompat ke dalam perahu. Aldy always acts as a fearless kid, dia selalu begitu. Masih kuingat di bulan pertama aku di sini, aku sempat membawanya ke puskesmas saat kepalanya bocor membentur batu. Saat itu, aku panik bukan main melihat luka menganga di kepalanya. Segera kularikan dia ke puskesmas di kampung Degen, kampung seberang laut.

Melihat luka Aldy yang cukup parah, dokter memutuskan untuk menjahitnya. Aku ngilu menyaksikan proses jahit-menjahit ini, tapi Si Kecil Aldy malah terbaring tenang sambil mengunyah gula-gula yang aku berikan padanya. Dia tidak menangis, sama sekali. Bahkan, tak lama kemudian dia tertidur lelap, sementara dokter sibuk menjahit luka di kepalanya. Ya, itulah Aldy, dia hanya menangis ketika lapar. 

Dan sekarang, aku dan dia berada di perahu yang sama, kita berdayung berkeliling kampung. Aldy looks so happy. 

“Aldy, ko ikut ibu pi Jawa sudah. Ko mau toh?” (Aldy, kamu ikut Ibu pergi ke Jawa ya. Kamu mau kan?) 

“Iyo Ibu, katong mau. Tapi, ibu kasih kembali katong di Offie lai O. Kalo Ibu tara kasih katong pulang, katong pi toki batu. Katong dapat uang, katong pulang di Offie sendiri O.” (Iya Ibu,saya mau. Tapi, nanti ibu antar saya pulang ke kampung Offie lagi ya. Kalau Ibu tidak antar saya pulang, nanti saya pergi memecah batu. (Dari hasil memecah batu) nanti saya punya uang, terus saya bisa pulang sendiri ke kampung Offie, deh.) 

Toki batu atau memecah batu adalah pekerjaan musiman yang sering dilakoni oleh anak-anakku ketika ada proyek pembangunan jalan di kampung. Sebenarnya, ini seharusnya menjadi pekerjaan para orangtua mereka saja. Tetapi karena anak-anakku adalah anak-anak kuat, mandiri, dan senang bekerja membantu orangtua mereka, jadi mereka turut serta melakoni pekerjaan ini. Hampir semua anak, bahkan Aldy yang baru berumur 4 tahun pun ikut terlibat dalam hiruk pikuk memecah batu ini, tanpa paksaan. Anak-anakku menyukai pekerjaan ini, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan layaknya permainan, dan permainan satu ini bahkan lebih menyenangkan karena menghasilkan uang. Dan Aldy sudah menyaksikan sendiri rupiah-rupiah yang kakak dan orangtuanya kumpulkan dari upah memecah batu. 

Percakapan dengan Aldy di sore itu begitu berkesan bagiku. Aku masih tak percaya, anakku yang baru berusia 4 tahun sudah paham sebuah konsep yang begitu dewasa; bahwa untuk menghasilkan uang dia harus bekerja, meski harus memecah batu. 

“Ko mau toki batu di Jawa buat dapat uang, Nak? Tara bisa mo. Orang Jawa tara toki batu, Nak. Dorang cari uang itu, jadi dokter, polisi, guru, tentara. Dorang sekolah baik-baik, jadi dorang mudah dapat uang. Aldy harus sekolah baik-baik e, jadi mudah dapat uang, tara usah toki batu O.” (Kamu mau memecah batu di Jawa untuk dapat uang, Nak? Tidak bisa lah. Orang Jawa tidak memecah batu, Nak. Mereka di Jawa cari uang dengan menjadi dokter, polisi, guru, tentara. Mereka sekolah dengan baik, jadi mudah mendapatkan uang. Jadi, Aldy harus sekolah baik-baik ya, biar nanti mudah menghasilkan uang, tidak perlu memecah batu”. 

“Iyo, Ibu, nanti katong jadi tentara sudah. Katong toki batu, katong dapat uang, katong jadi tentara”. (Iya, Ibu, nanti saya jadi tentara saja. Saya memecah batu, nanti saya dapat uang, saya jadi tentara). 

Aldy, Aldy...bahkan dia sudah tahu bahwa untuk mewujudkan cita-citanya menjadi tentara dia butuh biaya. Dan untuk membayar biaya menjadi tentara tersebut dia harus mencari uang. Dan memecah batu adalah satu-satunya profesi yang dia tahu untuk mencari uang saat ini.

Sore itu, Aldy kembali mengingatkan ku akan kerasnya hidup yang dijalani oleh anak-anakku di kampung ini, bahkan untuk mewujudkan cita-cita mereka. Belatarbelakang dari keluarga petani pala, yang seringkali memecah batu untuk makan, membuat mereka sadar betul bahwa hidup itu butuh perjuangan. Tidak ada yang instan. 

Tetapi aku yakin sekali bahwa kerasnya hidup tidak akan pernah bisa mengalahkan semangat mereka untuk berani bercita-cita dan menggapainya. Buktinya, bahkan Aldy kecilku pun sudah siap untuk bekerja keras demi mewujudkan cita-citanya, meski harus memecah batu... 

Aku percaya mimpi anak-anakku lebih keras dari batu manapun. Tidak akan ada yang bisa memecah mimpi dari anak-anak pemecah batu. Batu saja pecah, apalagi rintangan lainnya. 




Yenni Triani-Pengajar Muda Fakfak- 
(When I Believe Aldy’s Dream is Harder Than Any Rock).


Sunday, September 21, 2014

Ibu Guru, Mesjid, dan Anak-Anak Kampung Offie

Ini cerita tentang seorang ibu guru, ibu guru dari Jakarta. Ibu guru ini mengenakan jilbab cukup panjang, sehingga jika dinilai dari tampilan luarnya, harusnya dia cukup proper untuk didaulat sebagai “Guru Mengaji” bagi anak-anaknya.

Ibu guru ini ditugaskan di sebuah Kampung Islam, Kampung Offie namanya, di sebuah sudut pedalaman tanah Papua. Sejak hari pertama dia diberitakan akan ditugaskan di kampung itu, dia sudah tahu bahwa selain menjadi guru di sekolah, dia pasti juga akan berperan sebagai “Guru Mengaji”. Tapi bukannya senang, Si Ibu Guru malah gentar. Dia merasa bahwa dia belum selayak itu untuk dinobatkan sebagai Guru Mengaji. Mengingat, ibu itu hanya sholat 5 waktu saja, dan itu pun jarang yang on time. Apalagi kecakapan ibu itu dalam mengaji juga jauh dari mumpuni. Bahkan tidak semua surat-surat pendek dalam Juz Amma dia hapal. Seingatnya, terakhir kali dia menghapal Juz Amma itu sudah lama sekali. Tepatnya ketika masih di TPA, belasan tahun lalu. Makanya sudah lupa. Itulah sebabnya ketika sholat, surat Al Ikhlas dan An Nas menjadi bacaan favoritnya. Nah sekarang, Si Ibu Guru jenis ini harus menjadi Guru Mengaji, what a catastrophy!

Namun, ketika tiba pertama kali di kampung penugasannya, hal pertama yang ibu guru itu cari adalah keberadaan mesjid. Tempat yang biasanya dijadikan pusat belajar Al Qur’an bagi anak-anak Kampung Offie, selain di TPA. Walaupun dengan berbagai keterbatasan pengetahuan keagamaannya, Ibu Guru ini bertekad bahwa dia akan mencoba menjalankan peran barunya sebagai Guru Mengaji dengan seoptimal mungkin. Semangatnya membara kala itu. Dan untuk itu, dia harus memetakan keberadaan mesjid. Hal ini merupakan sebuah prestasi besar dalam hidup Si Ibu Guru, karena sewaktu di Jakarta, dia bukanlah sosok yang akrab dengan mesjid, sama sekali bukan. Mengingat, ketika masih berada di Jakarta, walaupun kediaman ibu ini dekat sekali dengan mesjid, tinggal ngesot saja sampai. Namun Si Ibu ini sangat malas pergi ke mesjid. Bahkan di bulan Ramadhan saja, sahabatnya harus “menyeret”nya ke mesjid, barulah dia mau mendatangi mesjid. Jika tidak dipaksa, dia akan lebih memilih sholat di rumah. Justifikasi andalannya adakah “Perempuan Lebih Baik Sholat di Rumah, Lebih Banyak Pahalanya.” Setidaknya itulah yang dia ingat dari semua ceramah ustad yang dia dengar dari TV. Padahal, alasan yang sebenarnya tentu saja karena dia malas, malas jalan, malas keluar kamar, itu saja, meski itu hanya untuk ke mesjid. Dan biasanya, ketika frekuensi kunjungan Si Ibu mulai meningkat ke mesjid, itu pertanda bahwa dia sedang mengalami kegalauan level tinggi, dan stok teman curhatnya telah habis, makanya dia meratap di mesjid, memohon ampunan dan pertolongan Tuhan, langsung di rumahNya.

Beruntungnya, kedatangan Ibu Guru itu di Kampung Offie bersamaan dengan bulan Ramadhan. Jadi mesjid sangat meriah setiap malamnya. Kebiasaan di kampung ini; sholat Jamaah hanya terjadi saat Maghrib dan Isya’ saja, sehingga Sholat Taraweh merupakan bonus spesial setiap tahunnya. Itulah sebabnya anak-anak di kampung ini hanya mengenal sholat wajib 2 waktu saja; Maghrib dan Isya’. Menyaksikan kemeriahan mesjid kampung di kala Ramadhan itu, Si Ibu Guru menjadi lebih bersemangat untuk menunaikan panggilan sholat taraweh di mesjid. Komitmennya untuk memperbaiki hubungannya dengan mesjid, khususnya selama berada di kampung itu, kian menguat. Dia telah benar-benar berniat untuk lebih intens berkunjung ke mesjid.
Tetapi, tak berapa lama, Si Ibu mulai galau dengan komitmennya itu. Dia mulai gentar dengan berbagai tantangan yang ada di antara dia dan mesjid. Pertama; lokasi mesjid itu jauh (sebenarnya jauh sekali, untuk ukuran Si Ibu). Saking jauhya suara adzan Maghrib dari mesjid itu tidak terdengar sampai ke rumah kediamanannya. Kedua; jalanan menuju mesjid itu sangat gelap, tanpa penerangan sama sekali, zero cahaya listrik ataupun pelita, serta melewati hutan. Dan yang ketiga, yang paling parah; perjalanan ke mesjid itu harus melintasi komplek tanah kuburan. Kuburannya besar-besar, dengan nisan-nisan kayu yang tinggi, di bawah naungan pohon-pohon besar pula. Model kuburan yang tidak pernah Si Ibu lihat sebelumnya. Kuburan buatan masyarakat asli Papua Offie. Parahnya lagi, tentu saja perjalanan menuju mesjid itu harus dia tempuh dengan berjalan kaki. Lengkaplah sudah intimidasinya!

Oh Tuhan, mesjid yang dekat dan terang benderang di Jakarta saja bukan main susahnya untuk dikunjungi oleh Si Ibu Guru. Dan sekarang, mesjidnya jauh dengan segala tantangan yang ada. Lalu, apa yang akan dilakukan Si Ibu Guru? Apakah dia akan menyerah dan kembali mengurungkan niatnya ke mesjid?

Ternyata tidak, Si Ibu Guru tidak menyerah semudah itu. Dia berani mengambil resiko untuk tetap mendatangi mesjid. Tapi, hanya 3 hari, ya 3 hari saja. Perjuangannya mendatangi mesjid kampung itu hanya bertahan 3 kali taraweh jamaah, selama kalender Ramadhan. Takut gelap, terintimidasi oleh kuburan, dan capek berjalan jauh menjadi alasan yang menjustifikasi berakhirnya perjuangan Si Ibu Guru ke mesjid di hari ke-3. Bahkan, kandasnya perjuangan Si Ibu Guru ke mesjid juga didukung oleh anak-anaknya. Anak-anaknya merasa iba kepada Si Ibu Guru yang selalu menampakkkan ekspresi ketakutan dan kepanikan tiap kali melintasi kuburan dan jalanan gelap itu. Oleh karena itu, setelah 3 hari tersebut, Si Ibu tidak pernah hadir di mesjid itu lagi. Dia baru kembali mengunjungi mesjid itu pada akhir Ramadhan, untuk sholat Idul Fitri, di pagi hari.

Untungnya sepanjang Ramadhan, kampung itu sedang didatangi oleh ustad dari Jawa, dalam program Safari Ramadhan pesantrennya. Dari penuturan anak-anaknya di sekolah, Si Ibu Guru tahu bahwa anak-anak sangat suka dengan sosok Si Ustad, yang katanya; selain ganteng juga baik hati, tidak pernah memukul. Si Ibu Guru lega, setidaknya, walaupun Ibu Guru absen ke mesjid, tapi anak-anaknya tetap rajin ke mesjid berkat adanya Si Ustad. Setiap hari di sekolah, setelah belajar Bahasa Inggris dan Kelas Kerajinan, anak-anak selalu menceritakan kepada Si Ibu Guru apa saja yang mereka pelajari dari Si Ustad di mesjid. Mereka mengaji dan sholat taraweh bareng, itulah cerita yang selalu mereka ulang setiap hari. Dan kadangkala, cerita itu diselingi dengan candaan menggoda bahwa “Si Ustad suka tanya-tanya soal Si Ibu Guru” (What?). Namun cerita ini tetap saja tidak menggugah Ibu Guru untuk kembali ke mesjid. Bayangan kuburan dan gulitanya malam masih menghantuinya.

Lalu, Ramadhan pun usai, Si Ustad pulang ke Jawa, tugasnya sudah selesai. Dan Ibu Guru itu pun tahu bahwa efek dari kepulangan Si Ustad adalah vakumnya aktivitas anak-anaknya di mesjid. Tidak ada lagi sosok yang membuat anak-anak semangat berbondong-bondong sholat Maghrib, Isya’, dan mengaji malam di Mesjid. Artinya mesjid akan kembali sepi seperti sebelum Ramadhan. Tapi, Ibu Guru tidak terlalu memikirkan soal itu. Ibu itu berpendapat bahwa seharusnya anak-anak memiliki self-motivation untuk ke mesjid, walaupun tanpa ajakan darinya ataupun Si Ustad lagi. ‘Kan mereka sudah dibiasakan ke mesjid selama Bulan Ramadhan, pikir Si Ibu. Apalagi, setelah Ramadhan, 2 TPA kampung kembali diaktifkan. Anak-anak kembali belajar mengaji di rumah Bapak Imam dan Mama Guru Mengaji mereka. Jadi, lepas sudah kewajiban Si Ibu Guru untuk mengajar anak-anaknya mengaji di mesjid. Demikianlah alibi rekaan Si Ibu Guru.

Tentu saja alibi rekaan Si Ibu Guru itu ngawur adanya. Sehabis Ramadhan, mesjid benar-benar sepi total. Hanya bapak-bapak imam yang masih rajin sholat di sana. Anak-anak hanya menunaikan kewajiban mereka untuk belajar mengaji di TPA, tetapi melupakan kewajiban mereka untuk sholat Maghrib dan Isya’ di mesjid. Walaupun mengetahui hal itu, Si Ibu Guru belum juga tergugah hatinya untuk mengambil alih posisi Si Ustad sebagai Duta Mesjid. Takut gelap, takut kuburan, dan capek berjalan jauh tentu saja masih menghantuinya.

Sampai suatu ketika, ibu itu ditimpa masalah. Dia sedih sekali. Dia tidak bisa curhat ke siapa-siapa. Semua teman curhatnya tertinggal di Jakarta. Zero signal juga tentunya menjadi kendala. Dia mulai merasa sendiri, sangat sendiri. Dan saat itulah, mesjid menjadi sangat dirindukan olehnya. Sholat di rumah terasa tidak cukup. Dia ingat mesjid. Dia ingin sekali ke sana, untuk segera mengadu kepada Tuhannya. Menempuh jarak yang jauh, berjalan kaki dalam gulitanya malam, dan melintasi kuburan, dia lakukan semuanya tanpa keluhan. Kali ini, dia lakukan semuanya tanpa ketakutan.

Dan akhirnya, Si Ibu Guru sampai di depan mesjid. Dia tiba di sana bahkan sebelum adzan Maghrib tiba. Benar saja, mesjid sepi sekali. Si Ibu guru mulai memikirkan keberadaan anak-anaknya. Maka, dia pun mulai berjalan keluar mesjid untuk mencari anak-anaknya untuk sholat Maghrib bersama. Dan, betapa terkejutnya dia, mendapati anak-anaknya, yang menjelang waktu Maghrib masih duduk-duduk di jalanan. Mereka bermain tanah, berguling-guling di rumput, baju kumal, dan Tuhan, mereka belum mandi sore. Padahal, seingat Si Ibu Guru, saat di bulan Ramadhan lalu, setiap sebelum Maghrib, anak-anaknya sudah mandi dan memakai busana muslim dan baju koko terbaik mereka. Mereka selalu siap untuk sholat ke mesjid. Sekarang, kebiasaan itu ternyata telah hilang. Anak-anak itu telah kehilangan semangatnya untuk mandi sore. Mereka tidak lagi peduli pada waktu Maghrib dan adzannya. Mereka telah kehilangan semangatnya untuk sholat di mesjid karena baik Pak Ustad maupun Ibu Guru tidak lagi hadir di mesjid. Tuhan, saat itu juga hati ibu itu terasa begitu sakit, seolah ditusuk dengan sangat keras, ditusuk oleh rasa malu dan bersalah. Dia menangis dalam diam.

Ibu Guru merasa begitu bersalah karena sudah begitu lama dia meninggalkan anak-anaknya terjauhkan dari mesjid. Anak-anak yang masih sangat butuh keberadaan sosok role model yang mendekatkan mereka dengan kehidupan mesjid. Sosok yang seharusnya selama ini terjelma dalam diri Si Ibu Guru.

“Ibu mo pi mana?” (Ibu mau pergi kemana?), pertanyaan seorang anaknya memecah lamunan Si Ibu Guru. “Ibu mo pi sholat, Nak. Sholat Maghrib di mesjid. Kamu ikut ya...” Si Ibu Guru mengajak anak itu dengan suara yang ditegar-tegarkan. “Yee, sholat! Katong pi mandi dulu ya, Bu, dan angkat katong pu talkum” (Saya mandi dulu ya, Bu, dan ambil mukenah)” seru anak itu. “Iya, cepat sudah, ajak teman-teman yang lain juga ya...” pinta Si Ibu lirih.

Dan akhirnya, setelah percakapan singkat itu, Si Ibu Guru dengan langkah gontai masuk ke mesjid, terduduk lesuh, tertunduk beristighfar... menunggu kedatangan anak-anaknya.
Tak lama kemudian, bersamaan dengan suara adzan Maghrib, terdengarlah deruan langkah kecil berlomba-lomba menaiki tangga mesjid. Pada Maghrib itu juga, anak-anaknya kembali bergerombol meramaikan mesjid. Mereka menemani Si Ibu Guru untuk menunaikan sholat maghribnya yang penuh dengan pelajaran. Itu adalah Sholat Maghrib Jamaah pertama mereka setelah sekian lama Ramadhan usai. Sujud di antara barisan shaf anak-anaknya semakin membuat ibu itu tidak bisa menahan air matanya, dia terisak di bawah sujud. “Tuhan, ampuni aku...”, bisiknya lirih. Dan sejak Maghrib itu juga, Si Ibu Guru berjanji bahwa dia akan rajin ke Mesjid, beribadah bersama anak-anaknya.

Dan benar saja, sejak Si Ibu Guru rajin ke mesjid, anak-anaknya kembali bersemangat ke mesjid. Setiap sebelum senja, anak-anaknya sudah pulang ke rumah untuk mandi, dan mereka siap memakai busana muslim terbaik mereka. Anak-anak perempuan menyembunyikan rambut keriting cantik mereka di dalam lindungan jilbab berwarna-warni. Sedangkan yang laki-laki mengenakan baju koko dan songkok di kepala mereka. Tidak ada lagi yang keluyuran di jalanan saat Maghrib maupun Isya’.

Kemudian, dengan tekad yang kuat, Si Ibu Guru pun mulai mempelajari Juz Amma lagi demi membantu anak-anaknya menghapal surat-surat pendek. Dia bertekad akan menjadi Guru Mengaji yang layak. Dan yang paling spesial, kini sehabis mengaji surat-surat pendek, Ibu Guru memimpin anak-anaknya untuk melantunkan lagu-lagu shalawat sambil menabuh rebana yang harmoninya memecah malam gelap kampung Offie. Ibu Guru itu, tidak pernah galau lagi, dia bahkan telah lupa dengan segala masalah dan keluhan pribadinya. Sekarang dia menjadi sosok yang jauh lebih bahagia, lebih berani menghadapi gelap ataupun kuburan, dan tentunya lebih lancar mengaji. Bahkan, yang lebih ajaibnya lagi, Si Ibu yang sebelumnya selalu percaya bahwa “dia TIDAK bisa menyanyi”, kini malah percaya diri memimpin grup kasidah anak-anaknya di kampung. Untuk pertama kali dalam hidup Si Ibu Guru, dia berani bernyanyi di depan orang lain, secara sadar. Dan itu adalah tanda pahala anak-anaknya, yang terus menerus meyakinkan Si Ibu Guru bahwa suaranya bagus, dan layak memimpin grup kasidah yang baru saja mereka bentuk.

Untuk kesekian kalinya, Si Ibu Guru kembali diusik oleh pertanyaan; siapa sebenarnya yang lebih banyak mengajar? Si Ibu Guru atau Anak-anaknya? Dan siapa yang sebenarnya menginspirasi? Si Ibu Guru atau Anak-anaknya? Dan dia malu menjawabnya.


***************************

“Ya Allah, Tuhanku, terima kasih masih memberiku kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik...”


“Terima kasih untuk membawaku pada mereka...”

“Ampuni aku Tuhan, yang sering lupa bersyukur dan terlalu banyak mementingkan diri sendiri...”

-Yenni Triani, Catatan Refleksi 3 Bulan di Tanah Papua-

Thursday, July 31, 2014

Moment To Remember: Being Introduced To Mr. Vice President of Indonesia



It was in his palace, in lovely June, I was invited to meet this humble Indonesian prominent leader, Mr. Budiono, The Vice President of Indonesia.

I was not alone when presented in front of him, after a long queue, as I accidentally reunited with my former thesis advisor; Mr. Anies Baswedan. Another humble national leader who was -out of the blue- coming to personally introduce me to Mr. Budiono. I didn't expect to see him that afternoon. I didn't even know that Pak Anies was also scheduled to be there at the palace, at precisely the same time as me. What a coincidence! He has always been a celebrity, surrounded by his fans everywhere he went, so I didn't expect he would notice me.

Standing next to me, Pak Anies told Pak Budiono: "Pak Budi, this is Yenni. She is one of my best students in Paramadina and she will serve as a voluntary teacher in Papua. She speaks excellent English, even though she's never been to any English speaking country yet".
I was so surprised that he had time for making me feel so seen and special in front of Pak Budi. I felt deeply honoured. I was even blushing knowing that he could still recognize me in a room full of competitive young achievers. This very moment definitely became my favourite moment with Mr. Anies Baswedan by far. To me, Pak Anies has always been a mentor, a teacher, and someone I admire and respect greatly. Even my father is also one of his biggest fans. So, obviously, he's very special to our family.
Apart from that, Pak Budi was very warm and kind, as well, he treated me like his daughter. So, I felt so lucky. Alhamdulillah. 
I still couldn't believe that Pak Anies would give such a kind and sweet introduction about me in front of a top leader like Mr. Budiono. It was like a dream. But, dreams do come true, anyway. What a sweet surprise. Alhamdulillah.

Well, I do hope that in the near future I will have an opportunity to study and live in one of the English speaking countries, just like both Pak Anies and Pak Budi who have a PhD from The US. And recently, I just found out that Pak Budi even had a Master’s degree from Monash University, Australia, which is another coincidence, because I've always wanted to continue my master's degree there, as well. And I think I'm going there soon, Inshaa Allah. Australia will be a perfect destination for me to study a Master of TESOL, Inshaa Allah. Well, actually Australia and England have been my dream destinations since childhood. My plan is to go to Australia first, and later; England,  Inshaa Allah. 

It's so ironic knowing that I've been learning English my whole life since childhood. And I've been teaching it since I was 18. But, haven't got any chance to visit any native English speaking country yet. And I'm not even joking. 😂🤭📖✒️🌹So, Inshaa Allah, I'm coming to Australia soon, it will be my first time abroad. 

Wednesday, July 23, 2014

Profil Yenni Triani untuk Indonesia Mengajar

Yenni, gadis suku Sekayu kelahiran Palembang, merupakan sarjana Ilmu Politik dari Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Falsafah dan Peradaban. Yenni adalah penerima beasiswa penuh Paramadina-Bank BTPN Fellowship 2009. Pada akhir masa kuliahnya di Universitas Paramadina, Yenni dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik Program Studi Hubungan Internasional, dengan predikat kelulusan Magna Cum Laude. Skripsi yang ditulisnya di bawah bimbingan Bpk. Anies Baswedan, berjudul; “Insiden Mavi Marmara dan Perubahan Kebijakan Luar Negeri Turki Terhadap Israel (2010-2012)”, juga dinobatkan sebagai skripsi terbaik.

Yenni yang senang terlibat dalam berbagai event nasional dan internasional pernah menjadi panitia untuk ASEAN Scout Jamboree 2008, Jamboree Nasional 2011, dan 14th Asian Physics Olympiad 2013. Semasa kuliah Yenni aktif menjadi guru volunteer untuk mengajar anak-anak jalanan dan anak-anak dari keluarga pra-sejahtera. 

Saat masih berstatus siswa SMK NEGERI 3 Palembang, pada tahun 2007, Yenni pernah menjuarai Lomba Keterampilan Siswa SMK Tingkat Nasional di bidang Pariwisata. Selain itu, Yenni yang juga sangat mencintai Bahasa Inggris ini telah berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris sejak masih berstatus siswa SMK. 

Yenni mengawali langkahnya dengan mengajar Bahasa Inggris di TOP Education Center pada 2005, ketika masih berusia 18 tahun. Selanjutnya, Yenni juga pernah mengajar Bahasa Inggris di Dolphin Language Center Palembang pada 2009. Sebelum bergabung bersama Indonesia Mengajar, Yenni sempat berkarir sebagai Guru Sekolah Dasar di Kinderfield Primary School Bekasi. Kini, Yenni tengah ditugaskan sebagai Pengajar Muda di Kabupaten Fakfak, Papua Barat selama 2014-2015.

Tuesday, July 22, 2014

Memulai Hidup Baru di Tanah Papua Sebagai Seorang Pengajar Muda


Tanggal 15 Juni 2014, untuk pertama kalinya kakiku menginjak tanah Papua. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan pergi sejauh ini, berada di sebuah tempat yang terletak di ujung timur Indonesia. Tapi kubulatkan tekadku untuk tetap menjangkau tempat ini, apapun resikonya, karena aku tahu bahwa ada banyak anak-anak Papua, para mutiara hitam yang sedang menungguku di kampung mereka. Mereka sedang menunggu seorang Ibu Guru, untuk belajar dan berbagi bersama mereka, dan itu adalah aku. Maka kubuang segala ketakutanku dan kekhawatiranku sebelum berangkat meninggalkan Jakarta. Aku yakin ini akan jadi sebuah perjalanan mulia yang direstui Tuhan dan orangtuaku. Ya Allah, aku datang ke Papua untuk mengajar dan berbagi kasih sayang dengan anak-anak Papua, sesuatu yang akan membuat hidupku bermanfaat dan berharga. Maka kuatkanlah aku, Tuhan...

Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 6 jam dari Jakarta, dan sempat singgah di Ambon, akhirnya aku tiba di bandara Torea. Torea adalah sebuah bandara kecil di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Memasuki kawasan bandara ini, aku takjub dengan pemandangan alamnya; laut biru, sebiru langitnya, membentang luas di hadapan bandara. Pesona keindahan ini membuatku mampu melupakan semua rasa pusing dan mual akibat rasa ketakutanku saat masih di dalam pesawat. Maklum aku sebenarnya takut ketinggian, dan ini kali pertama aku naik pesawat dengan rute jauh, lebih dari 5 jam. Sepanjang perjalanan udara; Alqur'an dan semua do'a membantuku melalui ketegangan di udara. Apalagi saat itu, aku terbang di tengah kondisi cuaca buruk, turbulensi menggentarkan nyaliku. Hanya do'a dan ayat-ayat Al Qur'an -yang tak henti-hentinya kulisankan- membuatku tetap berfikir positif bahwa perjalanan ini akan baik-baik saja. Dan Alhamdulillah, aku tiba dengan selamat di sini. 
Allahu Akbar... 

It was quite a journey, testing my adrenaline... 

But not long after that, all of my pains caused by the flight turbulence and anxiety were suddenly gone away somehow.
Alhamdulillah.

Setelah tiba di sini, aku istirahat beberapa hari di kota kabupaten Fakfak. Sebelum akhirnya kulanjutkan perjalanan darat, menembus hutan lebat dengan menumpang sebuah angkot, menuju sebuat tempat yang telah lama aku idam-idamkan: kampung penempatan.

Kampung penempatanku terletak di pinggir teluk, dengan tofografi alam berbukit-bukit, sebuah kombinasi yang hebat; laut dan bukit hijau. Kampung ini bernama Kampung Offie. Kutempuh 2 jam perjalanan darat untuk mencapai kampung ini. Saat tiba di sini pertama kali, aku telah disambut dengan senyum anak-anakku, anak-anak Papua dengan rambut keriting dan warna kulit eksotis mereka; para malaikat kecil yang selama ini hanya ada di bayanganku saja. Mereka sangat antusias bertemu denganku. Mereka memandangku tak henti-hentinya, yang membuatku merasa cantik, hehehe. 😂✌

Aku merasa menjadi pusat gravitasi di sini, kemanapun aku pergi, pasti selalu ada anak-anak di sekitarku, mereka mengikuti kemana pun aku melangkah. Segera, anak-anak ini mulai belajar menghafal namaku: Ibu Yenni. Tuhan aku bahagia sekali dipanggil Ibu, panggilan itu membuatku merasa seperti sosok penuh kasih yang sangat dicintai mereka. Setiap bertemu, anak-anakku selalu bersedia menerima jabatan tanganku tanpa malu-malu. Bahkan mereka dengan sangat antusias menciumi punggung-tanganku. Tuhan, ada rasa keharuan luar biasa setiap kali kugenggam tangan-tangan kecil mereka. Aku semakin bersyukur Tuhan mengirimku ke sini. Untuk pertama kalinya aku merasa begitu penting dan begitu berharga bagi orang lain. Aku begitu dicintai di sini. 

Di kampung inilah aku mulai melakukan tugasku sebagai seorang Pengajar Muda: guru sukarela. Namun sebagai seorang guru, aku tidak hanya mengajar di kelas. Tetapi aku juga merawat dan mendidik anak-anakku di luar kelas. Karena bagiku "Teaching is also parenting". Aku seorang guru, sekaligus ibu bagi anak-anakku. Dan hal ini membuat hidupku terasa sangat berbeda.

I feel so much alive here... 

Merawat mereka seolah mengalirkan energi kebahagiaan luar biasa kepadaku. Di sini, aku menjadi pribadi yang sangat bahagia, tak pernah satu hari pun kulewatkan tanpa tersenyum dan merasa bersyukur. 

Sepulang sekolah, kuajarkan anak-anakku cara cuci tangan dan mandi pakai sabun. Anak-anakku adalah anak-anak dengan potensi kinestetis yang luar biasa. Dalam sehari, mereka mampu melakukan berbagai petualangan. Mereka berburu cacing untuk memancing di laut, mencari kepiting di dalam lumpur, berlari naik turun bukit, bermain rumah-rumahan di hutan, berguling-guling di rerumputan. 

Mereka selalu penuh keringat dan berlumuran debu dan lumpur. Sayangnya, dengan kondisi itu, mereka tidak terbiasa mandi dan cuci tangan. Sehingga seringkali anak-anakku ini terjangkit penyakit kulit hingga ingusan. Aku tak mau membiarkan mereka terus menerus jauh dari kebiasaan hidup sehat. Untuk itu aku mulai memperkenalkan anak-anakku dengan kebiasaan cuci tangan dan mandi, terutama cuci tangan dan mandi pakai sabun.

Dari seringnya aktivitas cuci tangan dan mandi pakai sabun yang kami lakukan. Akhirnya anak-anakku mengatakan padaku bahwa sebenarnya mereka sangat suka mandi, apalagi mandi dengan menggunakan sabun. "Ibu, katong mo mandi pakai sabun, tapi sabun tarada". Sabun itu membuat mereka merasa wangi dan bersih. Tetapi apa daya, sabun di kampung sangat mahal harganya karena jumlahnya yang langka. Sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan sabun, sulit bagi mereka untuk mandi pakai sabun. 

Menyaksikan hal ini, aku memutuskan untuk menyisihkan uangku untuk membeli sabun di kota. Sabun di kota jauh lebih murah, walaupun tidak semurah di Jawa atau Sumatera. Tapi tak apalah, kubeli saja semampuku agar aku dapat memandikan anak-anakku dengan sabun serutin mungkin. 

Ya Allah, Ya Tuhanku, kali ini do'aku sederhana: bantulah aku untuk mendapatkan lebih banyak sabun untuk mereka... 

Total of Views

Thank You For Visiting Me